Perempuan Kaltim Makin Berdaya: 98,5 Persen Perempuan Kini Merdeka dari Buta Aksara

kaltimes.com
21 Apr 2026
Share
Literasi perempuan Kaltim tembus sepuluh besar nasional sebesar 98,52 persen./Ilustrasi

SOROT mata penuh binar terlihat saat seorang ibu tua mulai lancar mengeja huruf demi huruf di lembaran buku. Jemarinya yang kasar kini tak hanya terampil mencangkul, tetapi juga lincah menelusuri barisan kata yang membuka akses pada dunia yang lebih luas.

Kemampuan tersebut dikenal sebagai melek aksara, yakni keterampilan dasar membaca dan menulis dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, tingkat melek aksara perempuan di sepuluh provinsi bahkan telah mendekati 100 persen.

Capaian ini menunjukkan keberhasilan perluasan akses pendidikan dasar bagi perempuan. Kesenjangan gender dalam literasi pun semakin menyempit, sekaligus menjadi landasan penting untuk melihat sebaran capaian di berbagai wilayah.

Dominasi Wilayah Tengah dan Timur Indonesia

Sebaran tersebut memperlihatkan dominasi wilayah di luar Pulau Jawa. Sulawesi Utara menempati posisi puncak dengan angka melek aksara perempuan mencapai 99,8 persen.

Jakarta berada di posisi kedua dengan capaian 99,61 persen dan menjadi satu-satunya wakil Pulau Jawa. Sementara itu, Kepulauan Riau melengkapi tiga besar dengan angka 99,18 persen.

Posisi berikutnya diisi oleh Maluku dengan 99,1 persen, disusul Gorontalo sebesar 98,99 persen. Rangkaian data ini menunjukkan bahwa wilayah tengah dan timur Indonesia memiliki capaian literasi perempuan yang sangat tinggi.

Fenomena ini mencerminkan keberhasilan pemerataan pendidikan. Perempuan di luar Pulau Jawa menunjukkan semangat belajar yang kuat, sekaligus membuktikan bahwa upaya pengentasan buta huruf mulai menunjukkan hasil nyata.

Capaian Kalimantan Timur dan Rata-Rata Nasional

Dalam konteks tersebut, Kalimantan Timur juga mencatatkan capaian signifikan dengan angka 98,52 persen dan berada di posisi kesembilan nasional. Angka ini selaras dengan rata-rata lama sekolah perempuan di wilayah tersebut.

Sebagian besar perempuan di Kalimantan Timur hampir menyelesaikan pendidikan menengah dengan durasi sekitar 9,83 tahun. Hal ini menunjukkan keterkaitan kuat antara pendidikan formal dan kemampuan literasi dasar.

Secara nasional, angka melek aksara perempuan Indonesia pada 2025 berada di level 96,03 persen. Artinya, seluruh provinsi dalam daftar ini telah melampaui rata-rata nasional secara signifikan.

Menariknya, Pulau Sumatra menjadi wilayah paling dominan dengan empat provinsi dalam daftar. Sementara itu, Sulawesi dan Kalimantan masing-masing menyumbangkan dua provinsi, memperlihatkan kontribusi merata dari berbagai kawasan.

Pentingnya Literasi Fungsional bagi Pemberdayaan Perempuan

Capaian ini menjadi dasar penting dalam mendorong pemberdayaan perempuan ke tahap berikutnya. Dilansir GoodStat (20/4/2026), Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan bahwa pendidikan dasar merupakan kunci membangun kepercayaan diri dan kepemimpinan perempuan.

Namun, kemampuan membaca dan menulis saja belum cukup. Tantangan ke depan adalah meningkatkan literasi fungsional, yakni kemampuan memahami dan menggunakan informasi dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan ini berperan penting dalam pengambilan keputusan, baik dalam keluarga maupun aktivitas ekonomi. Literasi yang baik memungkinkan perempuan menyaring informasi dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas hidup.

Oleh karena itu, akses pendidikan lanjutan perlu terus diperluas. Dengan fondasi literasi yang kuat, perempuan tidak hanya mampu membaca dunia, tetapi juga berperan aktif dalam membentuk masa depan. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin