SUARA mesin pesawat di landasan kini terasa lebih berat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ruang tunggu bandara yang mulai lengang menjadi tanda melemahnya aktivitas perjalanan udara.
Kondisi ini berkaitan erat dengan tekanan biaya di sektor penerbangan. Konflik di Asia Tengah mengganggu pasokan energi dan mendorong lonjakan harga avtur hingga 70–80 persen per April 2026. Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) pun mendesak pemerintah menaikkan fuel surcharge.
Dikutip dari Straitstimes (6/4/2026), INACA hanya mengusulkan kenaikan tarif 15 persen. Namun, lonjakan harga yang lebih tinggi memaksa asosiasi meminta penyesuaian tambahan.
Dampaknya terlihat di lapangan. Di Bandara Soekarno-Hatta, harga avtur domestik naik dari Rp13,66 ribu pada Maret menjadi Rp23,55 ribu per liter, atau melonjak 72,45 persen dalam satu bulan. Untuk rute internasional, harga bahan bakar juga meningkat 80,32 persen, dari sekitar Rp15 ribu menjadi Rp28 ribu per liter, sehingga menambah tekanan biaya operasional maskapai.
Penurunan Penumpang Mencerminkan Melemahnya Permintaan

Seiring kenaikan biaya tersebut, permintaan perjalanan udara mulai melemah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penumpang domestik pada Februari 2026 turun menjadi 4,08 juta orang atau anjlok 17,05 persen dari 4,92 juta orang pada bulan sebelumnya.
Penurunan juga terjadi pada penerbangan internasional. Jumlah penumpang turun 15,24 persen secara bulanan menjadi 1,51 juta orang, serta menyusut sekitar 5 persen secara tahunan.
Tekanan Biaya dan Daya Beli Perburuk Kondisi Industri
Penurunan ini terjadi bahkan sebelum lonjakan harga avtur mencapai puncaknya pada April. Artinya, pelemahan permintaan sudah lebih dulu muncul akibat menurunnya daya beli masyarakat.
Di sisi lain, kenaikan harga avtur akibat konflik di Asia Tengah memperbesar beban operasional maskapai. Kondisi ini mendorong maskapai untuk menyesuaikan tarif demi menjaga keberlanjutan bisnis.
Kombinasi tekanan dari sisi permintaan dan biaya membuat industri penerbangan berada dalam situasi sulit. Jika tren berlanjut, kenaikan harga tiket berisiko semakin menekan jumlah penumpang dalam beberapa bulan ke depan. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin