Beban Kelas Menengah: Utang Pinjol Tembus Rp100 Triliun untuk Kebutuhan Mendesak dan Cicilan

kaltimes.com
10 Apr 2026
Share
OJK mencatat rekor baru utang pinjaman online masyarakat Indonesia yang menembus Rp100,69 triliun pada Februari 2026, dengan dominasi pengguna dari kalangan milenial dan kelas menengah. /Ilustrasi

LAYAR ponsel yang menyala di tengah malam kerap menjadi saksi kecemasan warga menghadapi tagihan. Kemudahan akses dana dalam satu ketukan kini berubah menjadi beban finansial bagi banyak keluarga.

Pinjaman online tetap menjadi pilihan ketika warga membutuhkan dana cepat. Layanan ini menawarkan proses instan tanpa prosedur rumit seperti lembaga keuangan konvensional. Selain itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2026 menunjukkan nilai outstanding pinjaman daring terus meningkat.

Rekor Baru Utang Pinjaman Online Nasional

Total utang pinjol masyarakat Indonesia mencapai Rp 100,69 triliun per Februari 2026. Angka ini tumbuh 25,75 persen dibanding Februari 2025 yang sebesar Rp 80,07 triliun.

Kenaikan ini berlangsung konsisten sejak 2025. Nilai pinjaman tercatat Rp 80,88 triliun pada April, naik menjadi Rp 90,99 triliun pada September, dan mencapai Rp 96,62 triliun pada Desember 2025, sebelum menembus rekor di awal 2026.

Dominasi Milenial dan Kelas Menengah

Lonjakan utang sejalan dengan profil penggunanya. Milenial mendominasi sebesar 45,15 persen, diikuti Gen Z 41,45 persen, Gen X 11,75 persen, dan Baby Boomers 1,65 persen.

Berdasarkan pengeluaran, pengguna terbanyak berasal dari kelas menengah dengan anggaran Rp 2,5 juta hingga Rp 3,5 juta (21,44 persen). Sebaliknya, kelompok dengan pengeluaran di atas Rp 6 juta hanya 2,47 persen.

Komposisi ini menunjukkan usia produktif dengan daya beli terbatas paling banyak menggunakan pinjol. Kebutuhan harian mendorong mereka berutang lebih besar dibanding kelompok berpenghasilan tinggi yang memiliki akses pembiayaan lain.

Kebutuhan Mendesak Dorong Penggunaan

Profil pengguna tersebut berkaitan dengan tujuan peminjaman. Sebanyak 23,02 persen responden menggunakan pinjol untuk cicilan tanpa kartu kredit, sementara 21,77 persen untuk kebutuhan mendesak seperti biaya kesehatan.

Kondisi ini menunjukkan pinjol telah bergeser menjadi penyangga konsumsi. Dominasi usia produktif mencerminkan tekanan ekonomi rumah tangga, sementara tingginya pinjaman untuk kebutuhan mendesak menandakan keterbatasan akses keuangan formal.

Kemudahan akses memang memberi solusi jangka pendek, namun pengelolaan keuangan tetap menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam lingkaran utang. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin