
SETIAP tahun, wajah-wajah baru muncul di ruang rapat dan kantor pemerintahan. Di antara mereka, semakin banyak perempuan kini duduk di kursi pemimpin, meski jumlahnya belum seimbang dengan laki-laki.
Sepanjang sejarah, perempuan sering menghadapi diskriminasi berbasis gender. Ruang yang terbatas membuat mereka sulit menyalurkan aspirasi maupun mengaktualisasikan diri.
Dalam pekerjaan, hal ini tercermin dari sedikitnya perempuan yang memegang posisi manajerial, yaitu jabatan dengan kewenangan memimpin tim atau mengambil keputusan penting, seperti manajer, kepala divisi, atau direktur.
Tren Kenaikan sejak 2015
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, proporsi perempuan di posisi manajerial terus meningkat sejak 2015, meski belum pernah menyentuh 50 persen. Pada 2015, persentasenya baru 22,32 persen. Angka itu naik menjadi 23,6 persen pada 2016, lalu 26,56 persen pada 2017.
Kenaikan berlanjut pada 2018 dengan 28,75 persen, lalu 30,37 persen pada 2019. Tahun 2020, jumlahnya naik lagi hingga 33,08 persen. Namun pandemi Covid-19 menghambat tren tersebut. Pada 2021, persentasenya turun ke 32,5 persen dan kembali turun menjadi 32,26 persen pada 2022.
Setelah ekonomi pulih, jumlah perempuan di posisi manajerial kembali naik. Pada 2023, persentasenya tembus 35,02 persen. Angka ini menjadi capaian tertinggi sepanjang satu dekade terakhir.

Perbandingan dengan Negara Tetangga
Jika dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia masih tertinggal. Data World Bank tahun 2023 menunjukkan, proporsi perempuan di posisi manajerial di Singapura mencapai 39 persen, naik tipis dari 38 persen pada 2022. Malaysia mencatat 37 persen pada 2023, meski stagnan dibanding tahun sebelumnya.
Dengan capaian 35,02 persen, Indonesia memang berhasil mencatat rekor tertinggi selama sepuluh tahun terakhir. Namun posisinya tetap di bawah Singapura dan Malaysia. Meski begitu, tren pertumbuhan yang konsisten memberi sinyal positif bahwa kesenjangan bisa semakin sempit jika kebijakan kesetaraan gender terus diperkuat.
Meningkatnya jumlah pemimpin perempuan memberi harapan baru bagi kesetaraan gender. Semakin banyak kursi strategis terisi perempuan, semakin terbuka jalan menuju pembangunan yang adil dan inklusif bagi semua.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati