
SETIAP kali berita korupsi mencuat, emosi anak muda ikut bergolak. Mereka merasa keadilan tak pernah berpihak pada rakyat kecil yang hidup serba kekurangan.
Survei terbaru dari Kawula17 mengungkap deretan isu yang paling membuat anak muda Indonesia marah. Penilaian dilakukan menggunakan skala kemarahan yang dianggap bisa mendorong perubahan positif. Dengan demikian, semakin tinggi nilainya, semakin besar pula amarah yang mereka rasakan.
Kawula17 merupakan lembaga riset independen yang menyoroti isu politik dan sosial anak muda. Survei kali ini melibatkan 1.342 responden berusia 17–35 tahun pada 10–17 Juli 2025. Data dikumpulkan secara daring menggunakan metode Computer-Assisted Self Interviewing (CASI).
Sebanyak 60 persen responden berasal dari Jawa, sisanya dari berbagai pulau lain di Indonesia. Adapun 51 persen responden laki-laki dan mayoritas berusia 26–30 tahun.
Korupsi Jadi Pemicu Utama
Hasil survei menunjukkan isu antikorupsi menempati peringkat pertama dengan tingkat kemarahan 71 persen. Dari jumlah itu, 23 persen mengaku marah dan 48 persen sangat marah.
Bahkan, angka ini lebih tinggi pada kelompok usia di atas 31 tahun, yaitu 77 persen. Secara wilayah, amarah paling besar datang dari anak muda di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.
Data ini mengisyaratkan bahwa anak muda semakin muak dengan praktik korupsi yang merugikan rakyat. Mereka melihat pejabat yang ketahuan korupsi bisa tetap hidup nyaman, sementara rakyat makin susah. Bagi anak muda, korupsi bukan hanya pelanggaran hukum, tapi juga pengkhianatan terhadap masa depan bangsa.
Kemiskinan dan Ekonomi Tak Kalah Membuat Geram
Isu kemiskinan (67 persen) dan ekonomi (62 persen) menyusul sebagai pemicu amarah berikutnya. Sama halnya dengan isu korupsi, kelompok usia di atas 31 tahun merasa paling terdampak. Pandangan ini menggambarkan keresahan terhadap mahalnya biaya hidup, terbatasnya kesempatan kerja, serta ketimpangan pendapatan.
Angka ini menunjukkan bahwa kondisi dompet dan dapur sangat memengaruhi cara anak muda menilai keadilan sosial. Misalnya, sulitnya mencari pekerjaan meski bergelar sarjana, atau harga bahan pokok yang naik terus tanpa diimbangi penghasilan. Bagi mereka, krisis ekonomi bukan sekadar angka di berita, melainkan realita sehari-hari.

HAM, Ketenagakerjaan, dan Isu Lainnya
Selain itu, isu Hak Asasi Manusia (HAM) memicu kemarahan 58 persen responden. Peristiwa seperti pembubaran aksi dengan cara represif hingga proses legislasi yang tertutup menjadi alasan utama.
Isu ketenagakerjaan membuat 57 persen responden marah.
Banyak anak muda menilai ijazah dan pendidikan yang mereka perjuangkan tidak sebanding dengan kesempatan kerja yang tersedia. Pendidikan (57 persen) dan kesehatan (55 persen) juga memicu amarah karena langsung berkaitan dengan masa depan dan kualitas hidup. Begitu pula dengan isu keamanan (55 persen), pangan (53 persen), dan kesetaraan gender (42 persen) yang menambah daftar keresahan.
Data ini memperlihatkan bahwa anak muda menilai banyak aspek kehidupan masih jauh dari kata adil. Dari hak bersuara hingga akses kerja dan kesehatan, mereka ingin perubahan nyata.
Misalnya, mahasiswa yang turun ke jalan menolak aturan bermasalah atau pencari kerja yang menuntut kesempatan lebih setara. Semua itu lahir dari dorongan emosi yang sama: rasa marah karena merasa diabaikan.
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa kemarahan anak muda bukan sekadar emosi sesaat. Sebaliknya, amarah yang mereka rasakan erat kaitannya dengan kesadaran politik dan kepedulian terhadap arah bangsa ke depan.
Indonesia pernah lahir dari kemarahan terhadap penjajahan. Kini, kemarahan anak muda menjadi tanda bahwa mereka tak rela masa depan dirampas oleh ketidakadilan.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin