Survei APJII: 41,27 Persen Warga RI Tak Pernah Ganti Password

kaltimes.com
31 Agu 2025
Share

KETIKA layar ponsel terkunci, kata sandi jadi benteng pertama yang melindungi data pribadi. Namun, banyak orang masih abai menjaga benteng ini tetap aman.

Menurut laporan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), 229,43 juta penduduk Indonesia sudah terkoneksi internet pada 2025. Tingkat penetrasi mencapai 80,66 persen.

Tingginya angka ini menunjukkan akses internet makin merata, tapi risiko kebocoran data juga makin besar. Salah satu cara mencegahnya adalah mengganti password secara rutin.

Kebiasaan Mengganti Password

Survei APJII mencatat 18,64 persen responden rutin mengganti password, baik untuk akun media sosial maupun layanan keuangan digital. Sementara itu, 26,86 persen hanya mengganti saat ada notifikasi atau ketika akunnya terasa terancam.

Ada juga responden yang lebih disiplin. Sebanyak 11,96 persen mengganti password setahun sekali, 6,78 persen setiap enam bulan, 5,62 persen setiap tiga bulan, 2,62 persen setiap dua bulan, dan 4,89 persen setiap sebulan sekali.

Angka ini menunjukkan kebiasaan masyarakat Indonesia masih cenderung reaktif. Banyak yang baru mengganti password ketika ada masalah, bukan sebagai langkah pencegahan. Hanya sebagian kecil yang benar-benar disiplin mengikuti rekomendasi keamanan digital, yakni mengganti password secara rutin dalam rentang tiga hingga enam bulan.

Jika dibandingkan standar global, mayoritas pakar keamanan siber menyarankan password diganti secara berkala, terutama setiap 3–6 bulan, dengan kombinasi huruf, angka, dan simbol.

Beberapa lembaga bahkan menekankan pentingnya autentikasi ganda (two-factor authentication) dibanding sekadar mengganti password. Artinya, sebagian besar pengguna internet di Indonesia masih tertinggal dalam praktik keamanan digital dasar.

Mayoritas Masih Abai

Sayangnya, sekitar 41,27 persen responden mengaku tidak pernah atau tidak tahu cara mengganti password. Padahal, langkah sederhana ini penting untuk melindungi akun dari peretasan.

Tingginya angka ini menunjukkan masih minimnya literasi keamanan digital di masyarakat. Banyak pengguna merasa password cukup dibuat sekali saja, tanpa memahami bahwa pola peretasan semakin canggih setiap tahun. Data pribadi, mulai dari nomor telepon, alamat email, hingga akses rekening digital, bisa menjadi sasaran empuk jika keamanan akun dibiarkan lemah.

Fenomena ini sejalan dengan tren global, di mana sebagian besar kasus kebocoran data bukan karena teknologi yang lemah, melainkan kelalaian pengguna. Artinya, edukasi publik tentang pentingnya mengganti password secara berkala dan menggunakan fitur keamanan tambahan seperti autentikasi dua faktor menjadi kunci untuk menekan risiko kejahatan siber di Indonesia.

Tantangan Kesadaran Digital

Sebagian besar yang enggan mengganti password beralasan takut lupa kata sandi baru. Ada juga yang mengaku tidak tahu cara mengubah password, bahkan merasa tidak peduli dengan keamanan akun. Fenomena ini menunjukkan kesadaran digital masyarakat masih rendah, meski risiko kejahatan siber terus meningkat.

Data pribadi kini lebih berharga dari sekadar angka di ponsel. Tanpa jaga sandi yang kuat, benteng itu bisa jebol kapan saja. Sudah saatnya publik lebih waspada sebelum ancaman digital benar-benar menimpa. (*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin