
GEMERLAP layar ponsel kini jadi pemandangan sehari-hari. Dari warung kopi hingga ruang kelas, internet selalu hadir menemani aktivitas masyarakat.
Survei dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan semakin luasnya akses internet di tanah air. Survei ini berlangsung pada 10 April–16 Juli 2025 dengan melibatkan 8.700 responden berusia minimal 13 tahun di 38 provinsi. Data dikumpulkan lewat wawancara tatap muka dengan margin of error 1,1 persen.
APJII mencatat 229,43 juta penduduk Indonesia sudah terkoneksi internet pada 2025. Tingkat penetrasi mencapai 80,66 persen, naik signifikan dibanding 64,8 persen pada 2018. Pertumbuhan positif ini menandakan infrastruktur makin merata dan kualitas jaringan terus membaik.
Media Sosial Paling Populer
Alasan utama publik mengakses internet adalah media sosial dengan capaian 24,8 persen. Angka ini menegaskan betapa besar peran media sosial dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Media sosial tidak lagi sekadar ruang untuk berbagi cerita pribadi atau menjaga hubungan sosial. Platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan X kini juga menjadi sarana promosi bisnis, lapak jualan online, hingga tempat membangun personal branding.
Bagi banyak Gen Z dan milenial, media sosial adalah pintu masuk utama untuk mendapatkan informasi baru, mengikuti tren, sekaligus memperluas jaringan profesional. Sementara itu, bagi pelaku usaha kecil dan menengah, media sosial menjadi kanal promosi murah meriah yang bisa menjangkau konsumen lintas daerah bahkan lintas negara.
Dominasi media sosial ini menunjukkan bahwa internet di Indonesia lebih banyak dimaknai sebagai ruang interaksi sosial dan ekonomi, bukan semata sebagai sarana mencari informasi atau belajar.
Akses Informasi dan Transaksi
Selain media sosial, 15,04 persen responden memakai internet untuk mencari informasi terkini. Internet memungkinkan berita dan kabar menyebar hanya dalam hitungan detik, membuat siapa saja bisa mengikuti perkembangan politik, ekonomi, hingga hiburan tanpa menunggu siaran televisi atau koran cetak.
Namun, derasnya arus berita palsu dan misinformasi masih menjadi tantangan besar. Literasi digital menjadi kunci agar publik bisa memilah informasi yang benar di tengah banjir konten online.
Sebanyak 14,95 persen responden memanfaatkan internet untuk transaksi digital. Berbagai layanan, mulai dari dompet digital, QRIS, transfer mobile banking, hingga belanja di marketplace, mempermudah masyarakat dalam mengatur keuangan. Kini, masyarakat tidak lagi perlu antre di bank atau membawa uang tunai, cukup mengandalkan ponsel untuk memenuhi hampir semua kebutuhan transaksi.

Hiburan hingga Layanan Publik
Sebanyak 14,67 persen responden menggunakan internet untuk hiburan. Akses film streaming, musik, hingga gim daring membuat internet menjadi ruang pelepas penat. Tren ini juga memperlihatkan bagaimana hiburan digital semakin menggeser media konvensional seperti televisi.
Di sisi lain, 8,6 persen responden mengakses layanan publik, misalnya untuk membayar pajak, mengurus administrasi kependudukan, atau layanan kesehatan online. Hal ini menunjukkan upaya digitalisasi layanan pemerintah mulai terasa dalam kehidupan masyarakat.
Sebanyak 5,84 persen responden memanfaatkan internet untuk layanan keuangan lain, seperti investasi online, asuransi digital, hingga aplikasi perencanaan keuangan.
Ada pula kelompok pengguna dengan kebutuhan spesifik. Sebanyak 4,2 persen mengakses internet terutama untuk komunikasi, 4,17 persen untuk sekolah daring, 4,16 persen menggunakan transportasi online, dan 3,54 persen terkoneksi untuk bekerja dari rumah. Ragam alasan ini menegaskan bahwa internet telah menyentuh hampir setiap aspek aktivitas harian masyarakat Indonesia.
Cerminan Kehidupan Digital
Data ini memperlihatkan bahwa internet sudah menjadi bagian penting dalam hampir semua aspek kehidupan. Mulai dari belajar, bekerja, hingga bersosialisasi, semua kini bergantung pada koneksi digital.
Tantangannya, seiring meluasnya akses, literasi digital masyarakat juga harus meningkat. Tanpa itu, manfaat internet bisa tergerus oleh risiko misinformasi dan penyalahgunaan.
Internet memang membuka peluang besar, tapi bijak memanfaatkannya menjadi kunci agar teknologi benar-benar membawa manfaat bagi semua. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin