Survei BPS: 75 Persen Warga Pilih Kitab Suci Sebagai Bacaan

kaltimes.com
30 Agu 2025
Share

SUARA halaman demi halaman tetap menemani banyak orang. Di tengah derasnya informasi digital, buku hadir sebagai penyeimbang dan penjaga pengetahuan.

Membaca menjadi cara efektif untuk menambah wawasan di era penuh informasi. Internet memang memberi akses cepat, tetapi akurasi sering meragukan. Buku justru menawarkan sumber yang lebih kredibel di tengah era post truth.

Survei Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 2023 membantah anggapan rendahnya literasi Indonesia. Dari 11.683 responden, mayoritas berhasil menuntaskan 5–6 buku per tahun. Tren ini terus naik. Pada 2024, indeks kegemaran membaca masyarakat Indonesia mencapai 72,44 dan masuk kategori sedang.

Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Statistik Sosial Budaya 2024 mencatat kitab suci menempati posisi teratas sebagai bacaan favorit. Sebanyak 75,80 persen responden membacanya dalam seminggu sebelum survei.

Di urutan kedua, 23,20 persen responden memilih buku pengetahuan. Sebanyak 20,41 persen responden membaca buku pelajaran sekolah. Koran atau surat kabar dibaca oleh 18,50 persen masyarakat.

Sebanyak 12,51 persen responden membaca buku cerita. Hanya 4,80 persen responden yang membaca majalah dan tabloid. Adapun bacaan lain, seperti kamus, jurnal, atau buletin, menarik perhatian 16,18 persen responden.

Data ini menegaskan kedekatan masyarakat dengan bacaan, meski jenisnya beragam. Tantangannya, bagaimana menjaga minat tersebut agar tidak kalah oleh konten instan di media sosial.

Membaca bukan sekadar aktivitas, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas hidup dan pengetahuan bangsa.(*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin