
GEMA mesin pabrik gula kerap hadir di film lawas Indonesia. Asap mengepul, buruh sibuk, dan gerobak penuh tebu melintas di layar. Dulu, adegan itu menggambarkan negeri penghasil gula. Kini, kenyataannya berbalik: Indonesia justru tercatat sebagai importir gula terbesar di dunia.
Berdasarkan laporan resmi dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dalam publikasi Sugar: World Markets and Trade, Indonesia menempati posisi teratas sebagai negara pengimpor gula terbesar di dunia untuk periode perdagangan 2023/2024.
Nilai impor Indonesia tahun 2024 naik 5,14 persen menjadi US$235,20 miliar dibanding 2023. Angka ini menandakan meningkatnya kebutuhan dalam negeri atas barang konsumsi dan bahan baku industri, termasuk gula.
Volume impor gula Indonesia mencapai 5.000.000 metrik ton pada 2024. Jumlah itu menempatkan Indonesia di posisi pertama sebagai importir gula terbesar dunia.
China, dengan populasi empat kali lebih besar, hanya mengimpor 4.300.000 metrik ton. Amerika Serikat berada di urutan ketiga dengan 3.300.000 metrik ton, disusul Uni Eropa sebesar 2.800.000 metrik ton.
Malaysia pun jauh di bawah Indonesia dengan 1.800.000 metrik ton. Daftar importir besar lain seperti India, Bangladesh, dan Nigeria masih berada di bawah level kebutuhan Indonesia.

Data USDA menegaskan adanya kesenjangan antara permintaan dan produksi gula nasional. Konsumsi tidak hanya datang dari rumah tangga, tetapi juga industri makanan dan minuman yang terus tumbuh. Dalam lima tahun terakhir, permintaan gula industri naik rata-rata 4–5 persen per tahun.
Ketergantungan pada impor membuat harga gula dalam negeri rentan terhadap gejolak global. Fluktuasi nilai tukar rupiah dan kebijakan negara pengekspor utama kerap berpengaruh langsung pada harga di pasar Indonesia.
Fakta ini menjadi tantangan besar bagi upaya swasembada. Pabrik gula di dalam negeri masih berjalan, tetapi produksinya tidak cukup mengejar lonjakan kebutuhan.
Gula pernah menjadi simbol kejayaan ekonomi di Nusantara. Kini, data impor menjadi pengingat bahwa kemandirian pangan bukan sekadar cita-cita, tetapi tuntutan nyata bagi masa depan.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin