80 Persen Perempuan Indonesia Utamakan Kesiapan Mental Sebelum Memiliki Anak

kaltimes.com
17 Jul 2025
Share

MEMUTUSKAN untuk memiliki anak bukan sekadar persoalan keinginan, melainkan sebuah langkah besar yang mengubah hidup selamanya. Bagi banyak perempuan, momen ini diwarnai keraguan, harapan, dan pertanyaan: “Sudah siapkah aku?”  

Berdasarkan survei The Digital Mom Survei Indonesia 2024 oleh The Asian Parent Insight, sebanyak 1.000 perempuan berusia 18-40 tahun yang telah memiliki anak atau sedang hamil dilibatkan dalam penelitian ini. Mayoritas responden berdomisili di Jabodetabek, dengan rentang usia 25-35 tahun. Responden yang dipilih bekerja sebagai ibu rumah tangga. Meski memberikan gambaran awal, data ini belum tentu mewakili seluruh kondisi ibu di Indonesia mengingat keterbatasan cakupan geografis dan profesi responden.  

Hasil survei menunjukkan kesiapan mental menjadi pertimbangan utama (80 persen) sebelum memiliki anak. Hal ini wajar mengingat menjadi orang tua penuh dengan tekanan emosional. Mulai dari kecemasan akan tanggung jawab seumur hidup hingga ketakutan gagal dalam pengasuhan. 

Di urutan kedua, stabilitas finansial (75 persen) menjadi penentu krusial. Hal ini disebabkan biaya pendidikan, kesehatan dan kebutuhan sehari-hari anak terus meningkat. Tanpa perencanaan keuangan yang matang, keluarga rentan mengalami stres ekonomi.  

Faktor kesiapan fisik (57 persen) juga tak boleh diabaikan. Kehamilan dan persalinan menuntut ketahanan tubuh, sementara merawat anak membutuhkan energi ekstra. Hampir setara, lingkungan yang nyaman dan aman (55 persen) turut memengaruhi keputusan. Dikarenakan anak membutuhkan ruang tumbuh yang positif. Sementara itu, pengetahuan soal pola asuh (52 persen) dinilai penting seiring kesadaran bahwa pengasuhan berbasis ilmu lebih minim risiko kesalahan.  

Di tingkat lebih rendah, stabilitas hubungan dengan pasangan (46 persen) menjadi bahan pertimbangan karena pengasuhan adalah tanggung jawab bersama. Akses fasilitas kesehatan (41 persen) dan keseimbangan karier-keluarga (40 persen) mencerminkan kebutuhan dukungan sistemik. Terakhir, dukungan keluarga dan teman (39 persen) menegaskan bahwa mengasuh anak bukanlah tugas solo, melainkan kerja kolektif.  

Data ini memperlihatkan keputusan memiliki anak adalah perpaduan kompleks antara kesiapan internal dan dukungan eksternal. Meski prioritas tiap perempuan berbeda, satu hal jelas, menjadi orang tua adalah perjalanan panjang yang butuh persiapan menyeluruh. Bukan hanya dari hati, tapi juga pikiran.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin