80 Persen Masyarakat Kaltim Gunakan Internet, Apa Dampaknya Bagi Generasi Muda?

kaltimes.com
6 Feb 2025
Share

PERKEMBANGAN Teknologi dan akses informasi telah membawa dampak signifikan bagi masyarakat Indonesia. Penggunaan internet yang terus meningkat menunjukkan perubahan dalam cara hidup, bekerja, dan berinteraksi.
Penggunaan internet di Indonesia terus tumbuh. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dilansir dari GoodStat pukul 08.20 Wita, 20 Januari 2025, jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2024 mencapai 221,56 juta jiwa atau 79,50 persen dari total populasi.

Padahal, 6 tahun lalu atau pada 2018, jumlah pengguna internet masih di angka 64,80 persen. Seperti dilansir dari apjii.or.id yang diakses pukul 8.50 Wita, 22 Januari 2025, menunjukkan bahwa pada 2018 tingkat pengguna internet di Indonesia tercatat 64,80 persen. Angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2020 menjadi 73,70 persen; 2022 di angka 77,01 persen; dan 2023 di angka 78,19. Dari data tersebut, mencerminkan pertumbuhan akses internet yang konsisten selama beberapa tahun terakhir.

Metode penentuan sampel yang digunakan oleh APJII adalah multistage random sampling. Artinya teknik pengambilan sampel bertahap yang membagi populasi menjadi kelompok kecil (klaster). Selanjutnya sampel dipilih secara acak dari setiap kelompok tersebut.

Metode ini memiliki margin of error sebesar 1,1 persen dan relative standard error 0,43 persen. Margin of error adalah batas toleransi kesalahan yang kerap digunakan dalam metode penelitian, sedangkan relative standard error menunjukkan seberapa besar perbedaan rata-rata populasi dari rata-rata sampel. Dari data ini terlihat bahwa pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin pentingnya internet dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, baik untuk komunikasi, pekerjaan, maupun hiburan.

Bagaimana dengan di Kalimantan Timur? Dilansir dari diskominfo.kaltimprov.go.id yang diakses pada pukul 07.28 Wita, 22 Januari 2025, pengguna internet di provinsi ini pada 2024 mencapai 80,63 persen. Angka tersebut didapatkan dari Survei Penetrasi Internet yang dilakukan oleh APJII.

Hal ini menempatkan Kaltim di posisi ke-7 dari 10 daerah dengan tingkat pengguna internet tertinggi di Indonesia. Provinsi-provinsi dengan tingkat penggunaan internet tertinggi lainnya: Banten (89,10 persen), DKI Jakarta (86,96 persen), Jawa Barat (82,73 persen), Kepulauan Bangka Belitung (82,66 persen), Jawa Timur (81,26 persen), Bali (80,88 persen), Kalimantan Timur (80,64 persen), Jambi (80,48 persen), Sumatra Barat (80,31 persen) dan Kepulauan Riau (75,67 persen).

Angka ini menunjukkan bahwa Kalimantan Timur memiliki tingkat penggunaan internet yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Hal ini mencerminkan akses internet yang semakin merata di berbagai wilayah, termasuk daerah-daerah yang sebelumnya sulit dijangkau.

Peningkatan tersebut didukung oleh pembangunan infrastruktur digital yang semakin baik serta peningkatan literasi teknologi di kalangan masyarakat, yang menjadi kunci dalam memanfaatkan perkembangan teknologi untuk kehidupan sehari-hari.

Maraknya penggunaan internet membawa kekhawatiran karena anak-anak usia dini sudah mulai terpapar dunia maya. Data Badan Pusat Statistik yang diakses pukul 09.43 Wita, 20 Januari 2025, mencatat bahwa 51,19 persen anak berusia 5-6 tahun persen telah mengakses internet pada tahun 2024.

Berdasarkan jurnal Dampak Penggunaan Media Sosial pada Anak di Bawah Umur oleh Amanda Putri Indi Jelita dan rekan-rekannya, anak-anak berisiko mengalami berbagai dampak negatif yang serius.

Dampak tersebut antara lain termasuk cyberbullying yang dapat menyebabkan stres dan depresi, body shaming yang dapat menurunkan rasa percaya diri, gangguan tidur yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental, kesulitan konsentrasi yang dapat mempengaruhi prestasi akademik, serta penurunan rasa percaya diri akibat membandingkan diri dengan orang lain di media sosial.

Selain itu, anak-anak juga rentan terhadap hoaks yang dapat mempengaruhi pemikiran kritis, penipuan yang dapat menyebabkan kerugian finansial, dan ancaman predator online yang dapat membahayakan keselamatan mereka.

Lebih lanjut, penggunaan media sosial yang berlebihan pada anak-anak juga dapat mengganggu interaksi sosial dan mempengaruhi perkembangan emosi dan sosial mereka. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pengasuh untuk memantau dan mengatur penggunaan media sosial pada anak-anak mereka.

Meningkatnya penggunaan internet di Indonesia membawa banyak manfaat. Internet memudahkan akses informasi, mempercepat komunikasi, serta membuka peluang baru di bidang ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan. Semua ini berkontribusi pada kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan.

Meski demikian, dampak negatif juga perlu diwaspadai, terutama bagi anak-anak. Mereka rentan terpapar konten yang berbahaya di dunia maya. Peran orang tua sangat penting untuk memantau aktivitas anak di internet, membatasi waktu penggunaan perangkat, mengajarkan tanggung jawab digital dan pentingnya menjaga privasi. Langkah-langkah ini penting agar penggunaan internet dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan anak tanpa mengabaikan keselamatan mereka di dunia maya. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin