TEKNOLOGI AI kini bukan sekadar alat, tapi telah menjadi bagian penting dalam rekrutmen. Ia membantu mempercepat proses pencarian kerja, namun juga memperketat seleksi secara otomatis.
Survei terbaru dari Jobstreet yang melibatkan 1.273 staf rekrutmen dan HR menunjukkan bahwa AI digunakan secara luas dalam proses perekrutan. Sebanyak sekitar 76 persen responden mengatakan AI membantu dalam menyaring kandidat. Sementara itu, 74 persen menggunakannya untuk penulisan iklan lowongan.
Hampir setengahnya, 49 persen, memanfaatkannya untuk penilaian kandidat, dan 38 persen dalam wawancara serta pengecekan latar belakang. Bahkan, 34 persen menggunakan AI untuk onboarding. Data ini menggambarkan transformasi signifikan. AI bukan lagi sekadar opsi, tapi bagian integral dari proses rekrutmen modern.

Untuk pelamar, ada sejumlah trik penting agar tidak “terjerembab” oleh penyaringan otomatis ini. Pertajam resume dengan kata kunci yang relevan dengan posisi. Sesuaikan dengan iklan pekerjaan, karena AI sering memindai kalimat spesifik . Manfaatkan fitur ‘Job Alert’ di platform seperti Jobstreet. Lengkapi profil seakurat mungkin agar AI merekomendasikan kepada perekrut. Selain itu, pelamar dapat memperluas jaringan lewat LinkedIn dan kirim DM personal ke perekrut jika memungkinkan. Terkadang bypass front door ini lebih efektif. (Tips Sukses Cari Kerja Impian, Yuk Kenali AI Jobstreet!, Jobstreet, 2022)
Secara keseluruhan, penggunaan AI dalam rekrutmen menghadirkan peluang sekaligus tantangan. AI mampu meningkatkan efisiensi dan memperluas akses, namun pelamar tetap perlu strategi agar ‘terlihat’ oleh sistem. Di masa depan, kemampuan memadukan keahlian manusia dan kecanggihan teknologi akan jadi penentu sukses dalam mencari kerja di era digital.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin