SUDAH 80 tahun Indonesia merdeka, tapi ketimpangan layanan kesehatan masih terasa. DKI Jakarta memang punya jumlah dokter spesialis kanker terbanyak di Indonesia, tapi daerah lain masih kekurangan.
Kanker payudara jadi momok menakutkan di Indonesia. Penyakit ini banyak menyerang perempuan, sering kali baru terdeteksi saat sudah parah karena gejalanya samar dan kesadaran periksa dini masih rendah.
Menurut Globocan (2024), kasus kanker payudara menempati urutan pertama di Indonesia. Jumlahnya mencapai 66 ribu kasus, dengan angka kematian lebih dari 22 ribu jiwa. Fakta ini menunjukkan betapa mematikannya kanker payudara di Indonesia.
Sayangnya, jumlah dokter spesialis kanker di Indonesia belum cukup. Berdasarkan data Konsil Kedokteran Indonesia, dokter spesialis onkologi masih terkonsentrasi di kota besar. DKI Jakarta memiliki 67 dokter, jauh lebih banyak dibanding provinsi lain. Di bawahnya ada Jawa Barat dengan 20 dokter, lalu Jawa Tengah 16 dokter, Jawa Timur 11 dokter, Sumatra Utara dan Yogyakarta masing-masing 9 dokter, serta Bali 8 dokter.

Ketimpangan ini memaksa pasien dari daerah lain melakukan perjalanan jauh untuk mendapat layanan medis. Banyak pasien dari desa atau daerah terpencil menunda pemeriksaan karena jarak dan biaya tinggi. Ini menyebabkan keterlambatan diagnosis dan memperbesar risiko kematian.
Selain ongkos perjalanan yang mahal, fasilitas kesehatan di daerah juga minim. Tidak semua rumah sakit memiliki alat mammografi atau dokter spesialis. Akibatnya, banyak pasien hanya bisa mengandalkan rumah sakit besar sebagai tempat rujukan.
dr. Rian Fabian, dokter bedah kanker dari RS Kanker Dharmais, menjelaskan bahwa kendala utama ada pada ongkos. Meski pengobatan ditanggung BPJS, banyak pasien tidak mampu membayar ongkos perjalanan. Hal ini ia sampaikan saat diwawancarai DetikHealth (2/2/2023).
Penumpukan pasien pun terjadi di rumah sakit kota besar. Banyaknya pasien dari berbagai wilayah membuat antrean semakin panjang. Rumah sakit kewalahan dan kualitas pelayanan pun ikut menurun.
Pasien kanker di daerah terpencil masih sulit mendapat diagnosis dan perawatan tepat waktu. Masalah ini muncul karena jumlah dokter dan fasilitas kesehatan belum merata.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin