ORANG TUA bukan hanya figur pelindung bagi banyak remaja di seluruh dunia, mereka adalah pelabuhan hati. Ada kerinduan yang tak terungkap, di balik pelukan, petuah, dan sesi curhat yang penuh kelegaan. Saat dunia terasa keras dan penuh tekanan, orang tua sering kali menjadi tempat di mana remaja merasa didengar dan dimengerti tanpa syarat.
Menurut survei dari Pew Research Center yang dilakukan antara 18 September dan 10 Oktober 2024. Hasilnya 52 persen remaja merasa sangat nyaman mengungkapkan kegelisahan dan masalahnya kepada orang tua. Ini sedikit lebih banyak dibanding yang memilih teman dekat (48 persen). Dari sini menunjukkan kedekatan keluarga tetap menjadi prioritas. Sementara itu, hanya 31 persen yang merasa nyaman curhat kepada terapis profesional. 26 persen kepada keluarga selain orang tua. Hanya 12 persen remaja yang merasa nyaman berbicara dengan guru tentang masalah pribadi mereka

Dengan melihat angka-angka ini,terdapat insight: orang tua menduduki posisi paling tinggi sebagai destinasi kepercayaan. Bukan hanya di hati, tetapi juga dalam tindakan nyata. Teman dekat memang tak kalah penting, tetapi urutan kenyamanan menunjukkan bahwa fondasi emosi remaja masih sangat terikat dengan orang tua. Sementara pencarian dukungan profesional, seperti terapis, masih berada jauh di bawah dalam hal kepercayaan awal.
Dari data ini menggarisbawahi pentingnya peran orang tua dalam pembangunan dukungan emosional bagi remaja. Di era yang penuh tekanan, dari sosial media, akademik, hingga tekanan sosial. Orang tua bukan sekadar figure formal, tetapi menjadi teman setia yang paling dipercaya. Inilah momen sebagai orang tua atau pendidik, untuk mendengarkan lebih dalam, hadir lebih dekat dan menjadi pelabuhan emosi yang remaja butuhkan.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin