GAYA hidup serba praktis dan pengaruh media sosial membuat Gen Z cenderung memilih makanan dan minuman yang mudah didapatkan serta sesuai tren. Kebiasaan ini berdampak pada pola konsumsi yang kurang sehat, terutama dengan tingginya asupan minuman manis dan makanan cepat saji. Jika dibiarkan, pola makan seperti ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit metabolik di masa depan. Data menunjukkan tingkat keparahan gaya hidup dan pola konsumsi tidak sehat di kalangan Gen Z.
Berdasarkan survei Jakpat yang dilakukan pada Desember 2024 terhadap 1.155 responden Gen Z, ditemukan bahwa hampir separuh dari mereka mengonsumsi minuman manis sebanyak 1-3 kali per hari. Teh manis menjadi pilihan favorit, dengan 63 persen responden pria dan 71 persen responden wanita memilihnya sebagai minuman utama. Kopi manis juga cukup populer, dikonsumsi oleh 59 persen responden pria dan 48 persen responden wanita. Selain itu, minuman manis kekinian memiliki peminat yang cukup tinggi, dengan 29 persen responden pria dan 40 persen responden wanita.
Data ini menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula masih sangat umum di kalangan Gen Z. Preferensi terhadap minuman manis masih tinggi di kalangan Gen Z. Minuman seperti teh, kopi, dan bubble tea mengandung kadar gula yang cukup tinggi. Konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi menyebabkan obesitas dan diabetes.
Tidak hanya mengonsumsi minuman manis, Gen Z juga gemar mengonsumsi makanan cepat saji. Berdasarkan data survei, 49 persen responden mengaku mengonsumsi fast food sebanyak 1-2 kali per minggu, sementara 24 persen lainnya mengonsumsi 3-4 kali per minggu. Bahkan, 12 persen responden mengaku mengonsumsi makanan cepat saji setiap hari. Menariknya, tidak ada satu pun responden yang melaporkan bahwa mereka sama sekali tidak mengonsumsi makanan cepat saji dalam seminggu. Hal ini menunjukkan bahwa fast food telah menjadi bagian dari pola makan sehari-hari Gen Z.

Salah satu alasan Gen Z sering mengonsumsi minuman manis adalah untuk meredakan stres. Gula diketahui dapat merangsang pelepasan hormon dopamin yang memberikan efek relaksasi dan perasaan senang dalam jangka pendek. Selain itu, faktor Fear of Missing Out (FOMO) juga berperan besar, di mana Gen Z tidak ingin tertinggal dari tren makanan dan minuman kekinian yang populer di media sosial. Tidak hanya minuman manis, makanan cepat saji juga menjadi pilihan utama bagi Gen Z karena dianggap lebih praktis dan efisien, terutama bagi mereka yang memiliki kesibukan tinggi.
Menurut penelitian dalam Jurnal Gizi dan Pangan oleh Putri, R. A. & Wicaksono, B. (2023), konsumsi makanan cepat saji di kalangan anak muda meningkat seiring dengan gaya hidup serba cepat dan kemudahan akses terhadap layanan pesan-antar makanan. Studi ini juga menyoroti bahwa pola konsumsi yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti obesitas dan diabetes jika tidak dikendalikan dengan baik. Selain itu, kualitas tidur yang menurun berhubungan dengan peningkatan nafsu makan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi status gizi.
Meskipun Gen Z cukup aktif berolahraga, frekuensinya masih tergolong rendah. Berdasarkan survei Data Indonesia periode 1 Agustus-22 Oktober 2023 dari 300 responden Gen Z, 52 persen Gen Z hanya berolahraga sebanyak 0-1 kali dalam seminggu. 38 persen lainnya berolahraga 2-3 kali per minggu. Jenis olahraga yang paling sering dilakukan adalah lari (55,33 persen) dan jalan santai (52,33 persen).

Meskipun Gen Z berusaha menjaga kesehatan dengan berolahraga, kebiasaan konsumsi makanan cepat saji dan minuman manis masih menjadi tantangan. Pola makan yang tidak sehat dapat menghambat manfaat olahraga. Hal ini diperparah jika asupan gula dan lemak berlebih tidak diimbangi dengan pola hidup yang lebih seimbang. Menurut jurnal yang sama, konsumsi gula dan lemak yang tinggi dapat menyebabkan resistensi insulin. Kondisi ini membuat tubuh lebih sulit mengatur kadar gula darah secara efektif. Akibatnya, risiko obesitas tetap meningkat, bahkan jika seseorang tetap aktif berolahraga.
Gen Z semakin sadar akan pentingnya olahraga, tetapi pola makan mereka yang kurang sehat membuat usaha tersebut kurang efektif. Tingginya konsumsi minuman manis dan makanan cepat saji berisiko meniadakan manfaat dari aktivitas fisik yang mereka lakukan. Jika olahraga tidak diimbangi dengan pola makan yang baik, manfaatnya menjadi sia-sia. Tubuh tetap menerima asupan gula dan lemak berlebih yang berkontribusi pada obesitas serta masalah metabolik lainnya.

Sebagian Gen Z mungkin berolahraga bukan demi kesehatan, tetapi sekadar mengikuti tren. Data menunjukkan 52 persen Gen Z hanya berolahraga 0-1 kali seminggu, menandakan kurangnya konsistensi dalam aktivitas fisik. Demi mendapatkan konten di media sosial membuat olahraga seperti lari dan jalan santai semakin populer. Banyak Gen Z melakukannya karena FOMO, bukan karena kesadaran akan pentingnya hidup sehat. Akibatnya, olahraga lebih menjadi tren sesaat daripada bagian dari gaya hidup yang konsisten. Jika hanya mengikuti tren tanpa mengubah pola makan, dampaknya bagi kesehatan jangka panjang tetap minim. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin