FENOMENA sindrom bebek (duck syndrome) kini semakin marak di Indonesia. Istilah ini menggambarkan kondisi seseorang yang berusaha menutupi kesulitan dan beban hidupnya. Mereka melakukan itu demi mempertahankan citra sempurna di hadapan orang lain. Istilah ini terinspirasi dari seekor bebek yang tampak tenang di atas air, padahal kakinya bergerak cepat di bawah air agar tidak tenggelam. Kini, fenomena ini banyak dialami oleh kalangan kelas menengah di Indonesia.
Dilansir Kompas, Sofia Ambarini dari Yayasan Mahargijono Schützenberger Indonesia menyebutkan sindrom bebek terjadi karena banyak orang merasa harus mempertahankan penampilan meski menghadapi kesulitan finansial. Dalam lima tahun terakhir, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan tajam pengeluaran per kapita kelas menengah, dari Rp 2,36 juta pada 2019 menjadi Rp 3,35 juta pada 2024. Namun, upah yang diterima tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup. (https://www.kompas.id/artikel/duck-syndrome-dan-penyakit-warga-kelas-menengah, Kompas, 2025)
Berbagai sektor yang banyak menyerap tenaga kerja, seperti manufaktur dan perdagangan, mengalami penurunan upah riil yang signifikan. Meskipun upah nominal mengalami kenaikan, upah riil justru turun, seperti pada sektor manufaktur yang turun hampir 14 persen dan sektor perdagangan yang turun lebih dari 17 persen.
Kondisi ini mendorong sebagian orang untuk mencari pinjaman agar bisa tetap bertahan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa pinjaman melalui Pegadaian meningkat 25,83 persen secara tahunan hingga Agustus 2024. Sementara itu, pinjaman daring atau pinjaman online juga menunjukkan tren kenaikan. Ini menunjukkan bahwa meski kelas menengah berusaha tampil baik-baik saja, mereka terjebak dalam kesulitan finansial.
Fenomena ini semakin memperburuk kondisi sosial-ekonomi di Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, jumlah warga kelas menengah berkurang 9,48 juta orang. Kini, mereka hanya tersisa 47,85 juta orang atau sekitar 17,13 persen dari total populasi, turun signifikan dari 21,45 persen pada 2019. Meskipun ekonomi Indonesia tetap tumbuh stabil di angka 5 persen, ketimpangan ekonomi semakin terasa. Kelas menengah yang dulu menjadi pendorong utama perekonomian kini harus berjuang keras untuk mempertahankan finansial mereka.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin