
GEMURUH musik di panggung festival selalu jadi magnet bagi publik. Kerumunan penonton rela menunggu berjam-jam demi melihat musisi idolanya tampil.
Festival musik Pestapora 2025 memicu perdebatan publik. Sejumlah band membatalkan penampilan karena mengetahui PT Freeport Indonesia menjadi sponsor utama. Fenomena ini menunjukkan konser musik tidak hanya hiburan, tapi juga ruang perlawanan anak muda.
Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Statistik Sosial Budaya 2024 mencatat 75,64 persen masyarakat Indonesia berusia di atas 5 tahun gemar menonton pertunjukan seni. Dari jumlah itu, 47,56 persen menonton secara langsung, sementara 27,9 persen memilih menonton tidak langsung. Angka penonton langsung melonjak signifikan dibanding 2018, ketika pandemi membuat mayoritas menonton dari rumah.
Di antara berbagai jenis pertunjukan, musik menempati posisi teratas. Sebanyak 52,55 persen masyarakat menyebut musik sebagai favorit. Film menyusul dengan 50,74 persen. Seni tari budaya Indonesia juga masih banyak penggemarnya, mencapai 26,96 persen. Sementara itu, teater hanya menarik 8,69 persen peminat.

Beberapa jenis kesenian lain memiliki penggemar lebih kecil. Seni rupa digemari 4,59 persen masyarakat, seni media 4,34 persen, dan seni sastra 3,28 persen. Sebanyak 20,32 persen responden lebih memilih pertunjukan tradisional seperti Reog, Debus, dan Kuda Lumping.
Dominasi musik sebagai hiburan publik membuat perusahaan menjadikan konser sebagai ajang kampanye. Freeport memilih Pestapora untuk branding. Namun, langkah itu berhadapan dengan kesadaran anak muda yang semakin kritis terhadap isu lingkungan.
Sorotan terbaru tertuju pada aktivitas tambang nikel di Raja Ampat. Hingga kini Freeport belum memberi klarifikasi. Tempo melaporkan, Vice President Corporate Communications PT Freeport Indonesia Katri Krisnati menolak memberikan pernyataan.
Data ini menegaskan musik bukan sekadar hiburan, tapi juga ruang politik kultural. Musik bisa menjadi panggung perlawanan, sekaligus medium korporasi. Pertanyaannya, ke mana arah suara anak muda akan bergema di masa depan? (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin