Dari Panggung Stand Up ke Kursi Sutradara: Komika Indonesia Buktikan Daya Saing di Layar Lebar

kaltimes.com
16 Jun 2025
Share

ADA masanya komika hanya dikenal sebagai penghibur lewat lawakan dan cerita sehari-hari yang dibumbui kelucuan. Tapi kini, mereka melangkah lebih jauh. Tak lagi sebatas berdiri di bawah sorotan lampu panggung, beberapa di antaranya justru sukses memimpin di balik layar, sebagai sutradara film-film besar yang menyentuh jutaan penonton.

Stand-up comedy di Indonesia bukan sekadar hiburan selintas. Sejak berkembang pesat di awal 2010-an, dunia komika menjadi ruang kreatif yang mendorong para pelakunya untuk berekspresi lebih luas. Banyak di antara mereka mulai menulis skenario, menjadi aktor, bahkan menyutradarai film layar lebar. Hasilnya, beberapa film garapan komika berhasil masuk jajaran film Indonesia terlaris sepanjang masa.

Perjalanan ini tak lepas dari kehadiran ajang pencarian bakat seperti Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) yang tayang di Kompas TV sejak 2011. SUCI menjadi panggung awal bagi banyak nama besar komika seperti Ryan Adriandhy, Ernest Prakasa, hingga Bene Dion.  Lewat kompetisi SUCI, para komika memulai karier dan menunjukkan gaya khas mereka. Ajang ini jadi batu loncatan lahirnya komedian serba bisa.

Transformasi itu semakin nyata ketika para komika mulai merambah industri film, bukan hanya sebagai aktor, tapi juga kreator di balik layar. Film “Jumbo” yang dirilis tahun 2025 jadi bukti paling mutakhir. Dengan penonton mencapai 10,17 juta, film produksi Visinema Studios ini mencatat rekor sebagai film Indonesia paling banyak ditonton. Film garapan sutradara Ryan Adriandhy, yang merupakan juara pertama SUCI 1, secara resmi mencuat di tengah tren keterlibatan komika sebagai pengarah cerita.

Salah satu nama paling menonjol adalah Muhadkly Acho, komika yang menyutradarai “Agak Laen” (2024). Film bergenre horor-komedi ini mampu menyedot 9,1 juta penonton, menjadikannya salah satu film lokal terlaris dalam sejarah perfilman Indonesia. Acho, yang sebelumnya dikenal lewat stand-up dan podcast, membuktikan bahwa humor bisa diramu menjadi tontonan masif dan menghibur tanpa kehilangan kualitas naratif.

Komika lainnya, Bene Dion Rajagukguk salah satu peserta SUCI 3, menyutradarai film keluarga “Ngeri-Ngeri Sedap” (2022). Dengan latar budaya Batak dan kisah penuh emosi, film ini ditonton lebih dari 2,8 juta penonton dan berhasil menyentuh banyak hati. Bene tidak hanya menulis dan menyutradarai, tapi juga menjaga nilai-nilai lokal tetap relevan di layar lebar.

Nama Ernest Prakasa juga tak bisa dilewatkan. Meraih juara 3 di SUCI 1 yang sama dengan Ryan Adriandhy. Ernest dikenal sebagai pelopor komika yang konsisten menyutradarai film-film bertema keluarga dan sosial dengan sentuhan komedi khas. Karyanya seperti Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (2,6 juta penonton) dan Cek Toko Sebelah (2,64 juta penonton) selalu mengangkat isu-isu relevan dengan masyarakat urban, membuat penontonnya tertawa sekaligus merenung.

Di sisi lain, Raditya Dika yang memulai karier dari dunia blog dan stand-up, sukses lewat film “Hangout” (2016) yang meraih 2,6 juta penonton. Ia dikenal dengan gaya penyutradaraan yang memadukan absurditas, misteri dan komedi gelap, sesuatu yang langka di perfilman Indonesia saat itu.

Deretan nama di atas menunjukkan bahwa komika bukan hanya bisa mengocok perut, tapi juga mampu menggerakkan jutaan pasang mata untuk datang ke bioskop. Dengan naskah yang kuat, sudut pandang segar, dan koneksi emosional yang dekat dengan keseharian, mereka membawa angin baru bagi dunia film Tanah Air.

Perjalanan dari panggung stand up ke kursi sutradara bukan hal mudah. Para komika membuktikan bahwa kepekaan sosial dan ketekunan bisa jadi modal kuat berkarya. Hasilnya, karya mereka tak sekadar lucu, tapi juga bermakna dan digemari.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin