Produksi Nikel Naik 10 Kali Lipat, Tapi Harganya Anjlok: Dilema Ekonomi dan Ekologi Indonesia

kaltimes.com
15 Jun 2025
Share

RAJA Ampat dikenal dunia sebagai surga bawah laut yang tak ternilai. Namun kini, tempat yang jadi kebanggaan Papua dan Indonesia itu terancam kerusakan. Bukan karena bencana alam, melainkan oleh tangan manusia sendiri melalui pertambangan nikel.

Kisah tambang nikel di Raja Ampat mencuat ke publik setelah sorotan terhadap aktivitas empat perusahaan tambang yang beroperasi di pulau-pulau kecil kawasan itu. Dilansir dari Detik, pemerintah akhirnya mengambil tindakan cepat. 

Setelah investigasi lapangan, pemerintah menggelar rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo. Hasilnya, pada 10 Juni 2025, izin empat perusahaan tambang di luar Pulau Gag resmi dicabut.

Keputusan ini diambil setelah ditemukan sejumlah pelanggaran lingkungan dan mempertimbangkan kekhawatiran masyarakat serta pemerintah daerah. Pencabutan ini menjadi pengingat bahwa kelestarian ekosistem Raja Ampat tidak bisa ditawar dengan alasan investasi semata.(Kronologi Tambang Nikel di Raja Ampat Jadi Sorotan hingga Izin Dicabut, Detik, 2025)

Ironisnya, di tengah gencarnya eksploitasi tambang, nilai ekonomi yang dihasilkan justru menurun. Produksi dan ekspor nikel Indonesia memang melonjak drastis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2021, ekspor nikel hanya sekitar 0,16 juta ton. Namun dalam tiga tahun, angka itu melejit lebih dari 10 kali lipat, mencapai 1,92 juta ton pada 2024.(Ekspor Nikel Indonesia Kembali Naik pada 2024 – GoodStats Data, GoodStat, 2025)

Tapi sayangnya, lonjakan produksi ini tidak sejalan dengan harga pasar. Berdasarkan data United States Geological Survey, harga nikel dunia justru terus turun. Dari posisi tertinggi di April 2022 yang mencapai lebih dari 35.000 dollar AS per metrik ton kering. Kini nilainya tinggal 15.405 dollar pada Juni 2025. Artinya, semakin banyak kita menambang, nilainya justru makin kecil. Sumber daya yang rusak tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh.(Harga Nikel Terus Merosot, Bagaimana Nasib Indonesia? – GoodStats Data, GoosStat, 2025)

Tambang bukan hanya soal ekonomi. Ia juga soal lingkungan, hak masyarakat adat, dan masa depan generasi berikutnya. Jika nikel diekstraksi dari kawasan seindah Raja Ampat tanpa kendali. Kerugian yang dihadapi tak hanya soal uang, tapi soal hilangnya identitas, kehidupan, dan warisan alam. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin