Kawasan Wisata Gunung Kerinci Ternyata Menyimpan Ladang Ganja Ilegal, Peringatan untuk Pengawasan Konservasi

kaltimes.com
10 Mei 2025
Share

PENEMUAN ladang ganja di kawasan Gunung Kerinci, Jambi, menggegerkan warga dan aparat penegak hukum. Kawasan yang dikenal sebagai destinasi wisata pendakian dan kawasan konservasi itu ternyata menyimpan potensi ancaman narkotika tersembunyi. Temuan ini menyoroti lemahnya pengawasan di wilayah terpencil yang selama ini luput dari pantauan.

Ladang ganja ditemukan saat petugas Balai Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) bersama tim gabungan melakukan patroli pada Kamis (9/5/2025). Dalam patroli tersebut, mereka menemukan 19 batang ganja setinggi lebih dari 1,5 meter di kawasan hutan Gunung Kerinci. Tanaman itu diduga sengaja ditanam secara tersembunyi di area sulit dijangkau. Pelaku memanfaatkan kontur lereng terjal dan vegetasi hutan lebat yang mendominasi kawasan pegunungan. Lereng-lereng sempit dan tertutup pepohonan tinggi membuat lokasi sulit diakses dan menyulitkan pendeteksian dari udara maupun patroli darat.

Secara ilmiah, kondisi geografis Gunung Kerinci mendukung pertumbuhan tanaman ganja. Gunung ini memiliki tanah vulkanik yang subur, kelembapan tinggi, serta suhu dingin yang stabil. Faktor-faktor ini menjadi ideal bagi tanaman ganja jenis Cannabis sativa untuk tumbuh optimal. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry (2016), dataran tinggi tropis dengan karakteristik tanah vulkanik seringkali menjadi lokasi pilihan bagi penanaman ganja ilegal. 

Tanah kaya mineral, suhu sejuk, dan kelembapan tinggi mendukung pertumbuhan pesat tanaman ganja. Beberapa studi lain juga mencatat bahwa kawasan pegunungan seperti Kerinci sering dimanfaatkan oleh pelaku ilegal karena kondisi alam yang mendukung pertumbuhannya

Pemerintah dan kepolisian melanjutkan penyisiran untuk mencari ladang lain dan pelaku penanaman. Dikutip dari Kompas, tanaman ganja yang ditemukan langsung dimusnahkan di lokasi untuk mencegah penyebaran bibit. Hingga kini, belum ada tersangka yang ditangkap, namun aparat masih melakukan penyelidikan intensif. Penemuan ini menjadi peringatan penting bagi pengawasan kawasan konservasi. Pengawasan tidak hanya perlu difokuskan pada aspek ekologi, tetapi juga potensi penyalahgunaan untuk aktivitas ilegal.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin