CAHAYA layar ponsel kini menyinari wajah-wajah di pelosok desa saat malam tiba. Jarak yang jauh terasa dekat berkat sinyal yang menghubungkan jutaan mimpi ke dunia luar.
Akses internet kini menjadi kebutuhan dasar dalam kehidupan modern. Perkembangannya mendorong transformasi digital di berbagai sektor di Indonesia.
Karena itu, tingkat penetrasi internet menjadi indikator penting untuk mengukur keterhubungan masyarakat. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pun merilis data terbaru untuk tahun 2025.
Capaian Nasional dan Provinsi Teratas

Berdasarkan survei APJII, penetrasi internet nasional mencapai 80,66 persen. Survei ini melibatkan 8,7 ribu responden di 38 provinsi selama April hingga Juli 2025.
Jumlah pengguna internet tercatat mencapai 229,43 juta jiwa dari total populasi 284,44 juta. Angka ini menunjukkan sebagian besar masyarakat Indonesia sudah terhubung secara digital.
DKI Jakarta memimpin dengan tingkat penetrasi 91,35 persen. DI Yogyakarta dan Bali menyusul dengan masing-masing 91,18 persen dan 90,59 persen.
Tingginya capaian ini didukung infrastruktur digital yang memadai. Urbanisasi yang tinggi juga mempercepat adopsi internet di wilayah perkotaan.
Dominasi wilayah maju ini kemudian memunculkan pertanyaan tentang kondisi di luar Pulau Jawa.
Perkembangan Penetrasi Internet di Luar Pulau Jawa
Di luar Jawa, Kalimantan Tengah mencatat penetrasi sebesar 89,57 persen. Bengkulu berada di angka 88,51 persen.
Kalimantan Timur juga menunjukkan capaian kuat dengan 88,33 persen. Hal ini menandakan pembangunan infrastruktur mulai merata ke berbagai daerah.
Meski begitu, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan. Sekitar 11 persen penduduk Kalimantan Timur masih belum terjangkau internet.
Kondisi geografis dan sebaran penduduk menjadi tantangan utama. Karena itu, penetrasi tinggi lebih menggambarkan ketersediaan akses secara umum, bukan distribusi merata.
Kesenjangan ini kemudian menjadi perhatian dalam pembangunan digital ke depan.
Tantangan Pemerataan Akses Digital Nasional
Pemerintah perlu memastikan akses internet merata di seluruh wilayah. Kesenjangan digital berpotensi menghambat ekonomi dan pendidikan masyarakat terpencil.
Meski penetrasi nasional meningkat, fokus pembangunan harus diarahkan ke daerah yang belum terjangkau. Literasi digital juga penting agar masyarakat dapat memanfaatkan internet secara optimal.
Distribusi internet yang merata akan mempercepat transformasi ekonomi digital di pedesaan. Kolaborasi antara pemerintah dan penyedia layanan menjadi kunci perluasan akses.
Langkah ini penting agar manfaat teknologi tidak hanya dirasakan di kota besar. Harapannya, seluruh masyarakat bisa terlibat dalam ekosistem digital global.
Konektivitas yang merata menjadi fondasi kesejahteraan di era modern. Setiap wilayah perlu mendapatkan akses yang sama demi kemajuan bangsa. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin