Mereka yang Melawan Stigma: Prestasi Gemilang dari Dunia Skizofrenia

kaltimes.com
25 Mei 2025
Share

KEMARIN, 24 Mei 2025, dunia memperingati Hari Skizofrenia Sedunia. Sabtu kemarin bukan sekadar seremoni, tapi seruan penting untuk melihat lebih dalam. Di balik stigma dan kesalahpahaman yang masih melekat, banyak orang dengan skizofrenia terus berjuang dalam diam. Mereka menyimpan mimpi, berusaha pulih, dan membuktikan bahwa prestasi bukan hal yang mustahil bagi mereka.

Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang ditandai dengan halusinasi, delusi, serta gangguan berpikir dan sosial. Penderitanya kerap kesulitan membedakan kenyataan dengan halusinasi, hingga akhirnya terasing dari kehidupan sosial. Di Indonesia, skizofrenia masih diselimuti stigma. Banyak orang menyebut penderitanya sebagai “orang gila”, bahkan ada yang menganggapnya kesurupan. Ketidakpahaman ini memperparah kondisi mereka yang seharusnya mendapat dukungan.(Putri, Amnan, & Maharani, 2022, Skizofrenia: Suatu Studi Literatur)

Namun, skizofrenia bukan akhir dari segalanya. Sejumlah tokoh dunia membuktikan bahwa penyakit ini tidak menghalangi seseorang untuk berkarya dan berprestasi.

John Nash, matematikawan jenius peraih Nobel, hidup dengan skizofrenia paranoid. Kisah hidupnya diangkat dalam film A Beautiful Mind. Ia melihat penyakitnya bukan sebagai kutukan, tapi bagian dari proses kreatif yang membentuk kejeniusannya.

Begitu pula Jack Kerouac dikenal sebagai tokoh penting sastra Amerika. Karyanya On The Road menjadi ikon budaya dan menginspirasi lahirnya Flower Generation. Gerakan ini merupakan gerakan anak muda 1960-an yang menolak perang dan mengusung perdamaian, kebebasan berekspresi, serta gaya hidup alternatif.

Joey Ramone, pendiri band legendaris Ramones, dikenal lewat lagu-lagu ikonik seperti “Blitzkrieg Bop” dan “I Wanna Be Sedated” yang menjadi tonggak musik punk rock dunia. Musiknya bukan hanya hiburan, tapi juga cara untuk menghadapi dunia yang penuh gejolak dalam pikirannya. Dengan lirik dan suara khasnya, Joey menginspirasi banyak musisi dan penggemar untuk tetap kuat meski berjuang melawan gangguan mental.

Vincent Van Gogh, pelukis post-impressionist asal Belanda, menghasilkan karya-karya masterpiece seperti “Starry Night” dan “Sunflowers” yang dipenuhi emosi dan warna hidup. Banyak ahli seni dan psikologi percaya bahwa gaya lukisnya yang ekspresif mencerminkan kondisi pikirannya yang kompleks akibat skizofrenia. Warisan seni Van Gogh hingga kini menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia dan menegaskan bahwa kreativitas bisa muncul dari tantangan jiwa.

Aaron Carter, penyanyi pop dan adik Nick Carter dari Backstreet Boys, secara terbuka berbagi perjuangannya melawan skizofrenia, bipolar dan kepribadian ganda. Meski menghadapi tekanan berat dan masalah kesehatan mental, Aaron tetap produktif berkarya dengan lagu-lagu seperti “Aaron’s Party (Come Get It)” dan “I Want Candy”. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa seseorang bisa tetap berkarya dan berjuang di tengah tantangan mental yang besar.

Kisah mereka adalah bukti bahwa meski hidup dengan skizofrenia bukan hal yang mudah, namun bukan berarti tak mungkin untuk bersinar. Dunia mungkin tak selalu mengerti, tapi setiap langkah yang berani untuk melawan stigma adalah kemenangan. Bagi para ODS (Orang dengan Skizofrenia), kalian bukan sendiri. Kalian tak kalah. Kalian tetap bisa bermimpi dan mewujudkannya.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin